PENGARUH
MEDIA TANAM DAN FREKUENSI PENYIRAMAN
TERHADAP
PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG
LOGO
Oleh
:
Adinan
Sabil
1410401056
Diajukan
sebagai Tugas Metode Ilmiah pada
Pendidikan
Strata Satu Fakultas Pertanian Universitas Tidar
PROGRAM
STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
TIDAR
2015
PROPOSAL
PENELITIAN
PENGARUH
MEDIA TANAM DAN FREKUENSI PENYIRAMAN
TERHADAP
PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG
OLEH
:
Adinan
Sabil
1410401056
Diterima
dan disetujui
Tanggal
: ...................
Pembimbing
I, Pembimbing
II,
Ir.
Rahayu Sarwitri, M.P. Ir.
Tujiyanta, M.P.
NIDN 0006095201 NIDN 0601016003
Mengetahui
:
Dekan
Ir.
Gembong Haryono, M.P.
NIP
19571112198703 1 002
DAFTAR
ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.............................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN................................................................ ii
DAFTAR ISI .........................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN
......................................................... 1
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA ................................... 3
BAB III PERMASALAHAN
...................................................... 7
BAB IV HIPOTESIS
.................................................................. 8
BAB V TUJUAN
DAN KEGUNAAN PENELITIAN .............. 9
BAB VI METODE
PENELITIAN ............................................. 10
BAB VII PENGAMATAN
......................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA
......................................................................... 14
LAMPIRAN
........................................................................................ 15
BAB
I
PENDAHULUAN
Jagung merupakan salah satu pangan
dunia yang terpenting selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama
di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumberpangan di
Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia jugamenggunakan jagung
sebagai bahan pangan yang penting. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung
juga ditanam untuk pakan ternak dan bahan baku industri (Suprapto, 1999).
Tanaman jagung yang dalam bahasa
ilmiahnya disebut Zea mays L., adalah salah satu jenis tanaman
biji-bijian yang menurut sejarahnya berasal dari Amerika. Orang-orang Eropa
yang datang ke Amerika membawa benih jagung tersebut ke negaranya. Melalui
Eropa tanaman jagung terus menyebar ke Asia dan Afrika. Baru sekitar abad ke-16
tanaman jagung ini oleh orang Portugis dibawa ke Pakistan, Tiongkok dan
daerah-daerah lainnya di Asia termasuk Indonesia.
Tanaman jagung yang dalam bahasa
ilmiahnya disebut Zea mays L., adalah salah satu jenis tanaman biji-bijian yang
menurut sejarahnya berasal dari Amerika. Orang-orang Eropa yang datang ke
Amerika membawa benih jagung tersebut ke negaranya. Melalui Eropa tanaman
jagung terus menyebar ke Asia dan Afrika. Baru sekitar abad ke-16 tanaman
jagung ini oleh orang Portugis dibawa ke Pakistan, Tiongkok dan daerah-daerah
lainnya di Asia termasuk Indonesia (Wirawan dan wahab, 2007).
Di Indonesia daerah-daerah penghasil
tanaman jagung adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura,Daerah
Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan
Maluku. Khusus daerah Jawa Timur dan Madura, tanaman jagung dibudidayakan cukup
intensif karena selain tanah dan iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhan
tanaman jagung, di daerah tersebut khususnya Madura jagung banyak dimanfaatkan
sebagai makanan pokok (Warisno, 2007).
Kebutuhan jagung manis nasional
untuk pangan rata - rata 7 - 8 ton ha-1per tahun, sedangkan produksi jagung
manis dalam negeri rata - rata 5 - 6 ton ha-1per tahun. Di Indonesia hasil
jagung manis masih tergolong rendah yaitu 3,5 tonha-1, sedangkan potensi
produksi jagung manis saat ini dapat mencapai 8,31 tonha-1(Sudarsono, 2000;
Anonymous, 2006).
Prospek usaha tani tanaman jagung
cukup cerah bila dikelola secara intensif dan komersial berpola agribisnis.
Permintaan pasar dalam negeri dan peluang ekspor komoditas jagung cenderung
meningkat dari tahun ke tahun, baik untuk memenuhi kebutuhan pangan. Hasil
penelitian agroekonomi tahun 1981-1986 menunjukkan bahwa permintaan terhadap
jagung terus meningkat. Hal ini berkaitan erat dengan laju pertumbuhan
penduduk, peningkatan konsumsi perkapita, perubahan pendapatan dan pemenuhan
kebutuhan benih (Rukmana, 1997).
Salah satu penyebab rendahnya
tingkat produktivitas komoditas pertanian, khususnya jagung manis ialah
kondisikesuburan tanah yang menurun dan bahan organik tanah yang
rendah.Keberhasilan peningkatan produktivitas komoditas pertanian di Indonesia
tidakterlepas dari penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan.
Penggunaan pupuk anorganik secara
terus-menerus tanpa diimbangi oleh pupuk organik akanmemberikan pengaruh buruk
pada tanah. Hal ini dijelaskan oleh Arafah dan Sirrapa (2003) bahwa penggunaan
pupuk anorganik secara intensif untukmengejar hasil yang tinggi akan
menyebabkan bahan organik tanah menurun,sehingga produktivitas
lahan juga menurun. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan
dampak dari penggunaan pupuk anorganik, maka upayayang dapat dilakukan ialah
dengan penggunaan pupuk hayati yang dapat menjadi salah satu alternatif yang
baik untuk memperbaiki sifat tanah serta menambah kandungan unsur hara pada
tanah sehingga produktivitas jagung manis masih dapat ditingkatkan.
Media tanam merupakan
salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Penggunaan media tanam yang tepat akan menentukan pertumbuhan bibit yang
ditanam. Tidak hanya kegunaannya saja tapi pengaruhnya terhadap perkecambahan
suatu biji. Pengaruh tersebut dapat disebabkan karena setiap media tanam
mengandung unsur-unsur dan struktur yang berbeda-beda.
Media tanam merupakan media/tempat dimana
tanaman/biji dapat tumbuh dan berkembang di dalamnya. Contohnya seperti
tanah,air,kapas,pasir, dan sejenis lainnya. Saat ini, di kehidupan sehari-hari
atau dalam perkebunan,tanah selalu menjadi media tanam bagi benih yang akan
ditanam. Tapi, dalam kegiatan penelitian, siswa-siswi selalu memakai
kapas untuk perkecambahan biji mereka, sedangkan media tanam yang menggunakan
air biasanya dikhususkan untuk tumbuhan hidroponik. Media tanam itu berpengaruh
terhadap kecepatan perkecambahan semua tanaman termasuk pertumbuhan tanaman
jagung.
Diduga penggunaan media
tanam dan frekuensi penyiraman 850cc dapat meningkatkan hasil dari tanaman
jagung.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman jagung termasuk Class
monocotyledone, ordo graminae, familia graminaceae, genus zea, species
Zea mays.L ( Insidewinme, 2007) dan merupakan tanaman berumah satu
(monoecious), bunga jantan (staminate) terbentuk pada malai dan bunga betina
(tepistila) terletak pada tongkol di pertengahan batang secara terpisah tapi
masih dalam satu tanaman (Subandi, 2008). Jagung tergolong tanaman C4 dan
mampu beradaptasi dengan baikpada faktor pembatas pertumbuhan dan produksi.
Salah satu sifat tanaman jagung sebagai tanaman C4, antara lain daun mempunyai
laju fotosintesis lebih tinggi dibandingkan tanaman C3, fotorespirasi dan
transpirasi rendah, efisien dalam penggunaan air (Goldsworthy dan Fisher,
1980).
Tanaman jagung berakar serabut
terdiri dari akar seminal, akar adventif dan akar udara (Goldsworthy dan
Fisher, 1980), mempunyai batang induk, berbentuk selindris terdiri dari
sejumlah ruas dan buku ruas. Pada buku ruas terdapat tunas yang berkembang menjadi
tongkol. Tinggi batang bervariasi 60-300 cm, tergantung pada varietas dan
tempat Selama fase vegetatif bakal daun mulai terbentuk dari kuncup tunas.
Setiap daun terdiri dari helaian daun, ligula dan pelepah daun yang erat
melekat pada batang (Sudjana, Rifin dan Sudjadi, 1991).
Bunga jantan terletak dipucuk yang
ditandai dengan adanya rambut atau tassel dan bunga betina terletak di ketiak
daun dan akan mengeluarkan stil dan stigma (Idris, Zainal, Mohammad, Lassim,
Norman dan Hashim, 1982). Bunga jagung tergolong bunga tidak lengkap karena
struktur bunganya tidak mempunyai petal dansepaldimana organ bunga jantan
(staminate) dan organ bunga betina (pestilate) tidak terdapat dalam satu bunga
disebut berumah satu (Sudjana, Rifin dan Sudjadi, 1991).
Tanaman jagung (Zea mays L.) dalam
sistematika tumbuh-tumbuhan menurut Warisno (2007) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Monocotyledonae
Ordo : Poales
Family : Poaceae
Genus : Zea
Species : Mays L.
Jagung merupakan tanaman semusim
(annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama
dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap
pertumbuhan generatif. Susunan morfologi tanaman jagung terdiri dari akar,
batang, daun, bunga, dan buah (Wirawan dan Wahab, 2007).
Perakaran tanaman jagung terdiri
dari 4 macam akar, yaitu akar utama, akar cabang, akar lateral, dan akar
rambut. Sistem perakaran tersebut berfungsi sebagai alat untuk mengisap air
serta garam-garam mineral yang terdapat dalam tanah, mengeluarkan
zat organik serta senyawa yang tidak diperlukan dan alat pernapasan. Akar
jagung termasuk dalam akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun
sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang cukup dewasa muncul
akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga
tegaknya tanaman (Suprapto, 1999). Batang jagung tegak dan mudah terlihat
sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gadum. Batang
tanaman jagung beruas-ruas dengan jumlah ruas bervariasi antara 10-40 ruas.
Tanaman jagung umumnya tidak bercabang. Panjang batang jagung umumnya berkisar
antara 60-300 cm, tergantung tipe jagung. Batang jagung cukup kokoh namun tidak
banyak mengandung lignin (Rukmana, 1997).
Daun jagung adalah daun sempurna.
Bentuknya memanjang, antara pelepah dan helai daun terdapat ligula.Tulang daun
sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada pula yang
berambut. Setiap stoma dikelilingi oleh sel-sel epidermis berbentuk kipas.
Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada
sel-sel daun (Wirawan dan Wahab, 2007).
Jagung memiliki bunga jantan dan
bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap
kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut
floret. Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga
(inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina
tersusun dalam tongkol yang tumbuh diantara batang dan pelepah daun.
Padaumumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif
meskipun memiliki sejumlah bunga (Suprapto, 1999).
Buah jagung terdiri dari tongkol,
biji dan daun pembungkus. Biji jagung mempunyai bentuk, warna, dan kandungan
endosperm yang bervariasi, tergantung pada jenisnya. Umumnya buah jagung
tersusun dalam barisan yang melekat secara lurus atau berkelok-kelok dan
berjumlah antara 8-20 baris biji.
Dilihat dari media tanam sebagai berikut :
·
Media Tanam Tanah Liat
Tanah liat merupakan
jenis tanah yang bertekstur paling halus dan lengket atau berlumpur.
Karakteristik dari tanah liat adalah memiliki pori-pori berukuran kecil
(pori-pori mikro) yang lebih banyak daripada pori-pori yang berukuran besar
(pori-pori makro) sehingga memiliki kemampuan mengikat air yang cukup kuat.
Pori-pori mikro adalah pori-pori halus yang berisi air kapiler atau udara.
Sementara pori-pori makro adalah pori-pori kasar yang berisi udara atau air
gravitasi yang mudah hilang. Ruang dari setiap pori-pori mikro berukuran sangat
sempit sehingga menyebabkan sirkulasi air atau udara menjadi lamban.
Pada dasarnya, tanah
liat bersifat miskin unsur hara sehingga perlu dikombinasikan dengan
bahan-bahan lain yang kaya akan unsur hara. Penggunaan tanah liat yang
dikombinasikan dengan bahan-bahan lain seperti pasir dan humus sangat cocok
dijadikan sebagai media penyemaian, cangkok, dan bonsai.
·
Media Tanam Pasir
Pasir sering digunakan
sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi tanah. Sejauh ini, pasir
dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian
benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman. Sifatnya
yang cepat kering akan memudahkan proses pengangkatan bibit tanaman yang
dianggap sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain. Sementara bobot
pasir yang cukup berat akan mempermudah tegaknya setek batang. Selain itu,
keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan dalam penggunaan dan dapat
meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam. Pasir malang dan pasir
bangunan merupakan jenis pasir yang sering digunakan sebagai media tanam.
Oleh karena memiliki
pori-pori berukuran besar (pori-pori makro) maka pasir menjadi mudah basah dan
cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan konsistensi (ketahanan terhadap
proses pemisahan) pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air atau
angin. Dengan demikian, media pasir lebih membutuhkan pengairan dan pemupukan
yang lebih intensif. Hal tersebut yang menyebabkan pasir jarang digunakan
sebagai media tanam secara tunggal.
Penggunaan pasir
sebagai media tanam sering dikombinasikan dengan campuran bahan anorganik lain,
seperti kerikil, batu-batuan, atau bahan organik yang disesuaikan dengan jenis
tanaman.
Pasir pantai atau semua
pasir yang berasal dari daerah yang
bersersalinitas tinggi merupakan jenis pasir yang harus dihindari untuk gunakan sebagai media tanam, kendati pasir tersebut sudah dicuci terlebih dahulu. Kadar garam yang tinggi pada media tanam dapat menyebabkan tanaman menjadi merana. Selain itu, organ-organ tanaman, seperti akar dan daun, juga memperlihatkan gejala terbakar yang selanjutnya mengakibatkan kematian jaringan (nekrosis).
bersersalinitas tinggi merupakan jenis pasir yang harus dihindari untuk gunakan sebagai media tanam, kendati pasir tersebut sudah dicuci terlebih dahulu. Kadar garam yang tinggi pada media tanam dapat menyebabkan tanaman menjadi merana. Selain itu, organ-organ tanaman, seperti akar dan daun, juga memperlihatkan gejala terbakar yang selanjutnya mengakibatkan kematian jaringan (nekrosis).
·
Media Tanam Kapas
Kapas memiliki struktur yang
lembut, dan juga memiliki daya serap air yang rendah. Sehingga, media tanam
dengan kapas dapat terjaga kelembabannya, dan juga memiliki persediaan air
dalam jangka waktu yang lama.
BAB
III
PERMASALAHAN
Jagung merupakan tanaman
semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh
pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap
pertumbuhan generatif.
Permasalahannya adalah rendahnya
tingkat produktivitas komoditas pertanian, khususnya jagung manis ialah kondisi
kesuburan tanah yang menurun dan bahan organik tanah yang
rendah.Keberhasilan peningkatan produktivitas komoditas pertanian di Indonesia
tidakterlepas dari penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan.
Dengan penelitian ini
diharapkan dapat memperoleh kombinasi yang paling tepat antara frekuensi
penyiraman dengan dan media tanam yang cocok sehingga dapat menghasilkan hasil
tanaman jagung yang terbaik
BAB
IV
HIPOTESIS
Diduga penggunaan media tanam pasir dan frekuensi
penyiraman 850cc dapat meningkatkan hasil dari tanaman jagung.
BAB V
TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN
1.
Tujuan Penelitian
·
Mengetahui pengaruh frekuensi penyiraman pada
tanaman jagung
·
Mengetahui kombinasi terbaik antara penggunaan
media tanam pasir dan kapas
2.
Kegunaan Penelitian
·
Sebagai sumber informasi bagi sebagian
orang yang belum mengetahui pengaruh media tanam bagi tumbuhan jagung.
·
Sebagai sumber informasi dalam pengembangan
teknologi pertanian, dan juga untuk memberi informasi pembaca atau petani
tentang ciri-ciri media tanam yang baik untuk pertumbuhan tanaman jagung.
BAB
VI
METODE
PENELITIAN
6.1 Metode
Penelitian
Penelitian dilaksanakan dilapang dengan menggunakan Rancangan
Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Penelitiuan terdiri dari 3 blok. Faktor perlakuan
daam penelitian adalah :
·
Frekuensi Penyiraman (FP), dengan taraf sebagai
berikut :
FP 1: 1 Kali siram
500ml/hari
FP 2: 1 Kali siram
750ml/hari
FP 3: 1 Kali siram
1000ml/hari
·
Media Tanam (MT), dengan taraf sebagai berikut :
MT 1 : Media Pasir
MT 2: Media Tanah liat
MT 3: Media Kapas
Sehingga diperoleh 9
kombinasi perlakuan :
FP1MT1 FP2MT1 FP3MT1
FP1MT2 FP2MT2 FP3MT2
FP1MT3 FP2MT3 FP3MT3
Data
hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan sidik ragam pada taraf 5% dan
1%, dan apabila ada beda nyata dilakukan uji lanjut dengan uji LSD untuk
menguji perlakuan media tanam dan DMRT untuk mengui perlakuan frekuensi
penyiraman
6.2 Alat
dan Bahan Penelitian
Alat yang
digunakan yaitu : cetok, cangkul, ember 500ml, 750 ml, dan 1000ml. Bahan :
media pasir, media tanah liat, media kapas, biji jagung.
6.3 Waktu
dan Tempat Peneitian
Penelitian
ini dilaksanakan pada bulan September 2015 – November 2015 di tanah terbuka
Universitas Tidar
6.4 Pelaksanaan
Penelitian
·
Persiapan Bahan Tanam
Memilih biji yang baik,dengan cara merendam biji. Pilihlah
biji yang mengendap dan buang biji yang mengapung. Kareng biji yang mengapung
sudah tidak dapat tumbuh atau mati
·
Penanaman
Dilakukan berdasarkan kombinasi perlakuan seperti diatas
6.5 Pemeliharaan
a.
Penyiraman
Dilakukan setiap menggunakan botol pengukur yang sudah
disediakan di setiap hari nya 1x siram 500ml, atau 1x siram 750ml, atau 1x
siram 1000ml
b.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan yaitu dengan cara mencabut gulma yang
tumbuh diarea tanam
c.
Pengendalian hama dan penyakit
Pencegahan hama dengan menggunakan rizotin 100 EC dengan cara
disemprotkan pada daun yang terserang hama. Sedangkan untuk pengendalian
penyakit dengan menggunakan Antracol 70 WP dengan cara dilarutkan kemudian di
semprotkan pada yang terkena jamur
6.6 Panen
Panen
dilakukan setelah sudah berumur 2 bulan.
BAB
VII
PENGAMATAN
Pengamatan
dilakukan pada setiap kombinasi perlakuan. Pengamatan dilakukan terhadap
parameter pengamatan sebagai berikut :
1. Tinggi tanaman (cm)
Pengukuran
tanaman dilakukan menggunakan penggaris dengan cara diukur dari pangkal
tanaman sampai pada titik tumbuh atau ujung daun jagung. Pengukuran
dilakukan setiap minggu hingga minggu ke-7.
2. Jumlah daun
Penghitungan
jumlah daun dilakukan dengan cara menghitung jumlah yang terbentuk pada setiap
tanaman dan dilakukan setiap minggu hingga minggu ke-7.
3. Panjang akar (cm)
Pengukuran
panjang akar tanaman dilakukan setelah tanaman dipanen dan akarnya telah
dibersihkan dari tanah, cara pengukurannya dilakukan dari leher akar sampai
ujung akar terpanjang.
4. Berat basah akar (g)
Penimbangan
berat basah akar dilakukan setelah pemanenan saat akar masih dalam keadaan
segar, penimbangan dilakukan menggunakan timbangan analitis.
5. Berat kering akar (g)
Penimbangan
berat kering akar dilakukan setelah akar dikeringkan menggunakan oven hingga
diperoleh berat konstan, penimbangan dilakukan menggunakan
timbangan digital.
6. Berat basah tanaman bagian atas (g)
Penimbangan
berat basah tanaman bagian atas dilakukan setelah pemanenan saat tanaman masih
dalam keadaan segar, penimbangan dilakukan menggunakan timbangan analitis.
7. Berat kering tanaman bagian atas (g)
Penimbangan
berat kering tanaman bagian atas dilakukan setelah tanaman dikeringkan
menggunakan oven hingga diperoleh berat konstan, penimbangan dilakukan
menggunakan timbangan digital.
8. Pengamatan visual
Pengamatan
visual dilakukan pada saat panen dengan tujuan untuk mengetahui atau
membandingkan percobaan yang telah dilakukan berdasarkan perlakuannya.
Pengamatan visual ini meliputi tinggi tanaman, besar dan tebal daun, warna
daun, kekekaran bagian atas tanaman, distribusi akar.
DAFTAR PUSTAKA
“Budidaya
Jagung Manis”. http://mitra-petani.blogspot.com/2011/09/budidaya-jagung-
manis.html.Diakses pada Sabtu, 1 November
2015.
Justice.
Oren L, Bass. Louis N. 1994. Prinsip dan Praktek Penyimpanan
Benih. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
http://ditjenbun.deptan.go.id/. Diakses pada Sabtu, 1
November 2015.
http://www.kebonkembang.com/. Diakses pada Sabtu, 1
November 2015.
Kartasapoetra,
Ance G. 2003. Teknologi Benih (Pengolahan Benih dan Tuntunan
Praktikum). Jakarta:
Rineka
Cipta.
Wahab,
Wirawan. 2007. Karakteristik dan klasifikasi tanaman jagung. Orasi Ilmiah Guru
Besar Tetap
Fisiologi
Tanaman. Fakultas Pertanian, IPB. 16 September 2006.
Rukmana,
1997. Syarat tumbuh tanaman jagung di indonesia sebagai komoditas alternative
untuk
pangan,
pakan, dan industry. Jurnal Litbang Pertanian 22: 133-140
Suprapto,
1999. Percobaan pada tanaman jagung berdasarkan frekuensi air. Fakultas
Pertanian, IPB.
Bogor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar