Selasa, 13 Oktober 2015

Pengaruh Media Tanam Dan Frekuensi Penyiraman

PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH MEDIA TANAM DAN FREKUENSI PENYIRAMAN
TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG






LOGO







Oleh :
Adinan Sabil
1410401056

Diajukan sebagai Tugas Metode Ilmiah pada
Pendidikan Strata Satu Fakultas Pertanian Universitas Tidar


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TIDAR
2015



PROPOSAL PENELITIAN
PENGARUH MEDIA TANAM DAN FREKUENSI PENYIRAMAN
TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG


OLEH :
Adinan Sabil
1410401056

Diterima dan disetujui
Tanggal : ...................

Pembimbing I,                                               Pembimbing II,


                        Ir. Rahayu Sarwitri, M.P.                            Ir. Tujiyanta, M.P.
                        NIDN 0006095201                                         NIDN 0601016003


Mengetahui :
Dekan


Ir. Gembong Haryono, M.P.
NIP 19571112198703 1 002



DAFTAR ISI
                                                                         Halaman
HALAMAN JUDUL..............................................................................       i
HALAMAN PENGESAHAN................................................................       ii
DAFTAR ISI .........................................................................................       iii
BAB I             PENDAHULUAN .........................................................       1
BAB II                        TINJAUAN PUSTAKA ...................................        3
BAB III          PERMASALAHAN ......................................................        7
BAB IV          HIPOTESIS ..................................................................         8
BAB V            TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN ..............       9
BAB VI          METODE PENELITIAN .............................................        10
BAB VII         PENGAMATAN .........................................................         12
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................         14
LAMPIRAN ........................................................................................         15







BAB I
PENDAHULUAN
Jagung merupakan salah satu pangan dunia yang terpenting selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumberpangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia jugamenggunakan jagung sebagai bahan pangan yang penting. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam untuk pakan ternak dan bahan baku industri (Suprapto, 1999).
Tanaman jagung yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Zea mays L., adalah salah satu jenis tanaman biji-bijian yang menurut sejarahnya berasal dari Amerika. Orang-orang Eropa yang datang ke Amerika membawa benih jagung tersebut ke negaranya. Melalui Eropa tanaman jagung terus menyebar ke Asia dan Afrika. Baru sekitar abad ke-16 tanaman jagung ini oleh orang Portugis dibawa ke Pakistan, Tiongkok dan daerah-daerah lainnya di Asia termasuk Indonesia.
Tanaman jagung yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Zea mays L., adalah salah satu jenis tanaman biji-bijian yang menurut sejarahnya berasal dari Amerika. Orang-orang Eropa yang datang ke Amerika membawa benih jagung tersebut ke negaranya. Melalui Eropa tanaman jagung terus menyebar ke Asia dan Afrika. Baru sekitar abad ke-16 tanaman jagung ini oleh orang Portugis dibawa ke Pakistan, Tiongkok dan daerah-daerah lainnya di Asia termasuk Indonesia (Wirawan dan wahab, 2007).
Di Indonesia daerah-daerah penghasil tanaman jagung adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura,Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Khusus daerah Jawa Timur dan Madura, tanaman jagung dibudidayakan cukup intensif karena selain tanah dan iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhan tanaman jagung, di daerah tersebut khususnya Madura jagung banyak dimanfaatkan sebagai makanan pokok (Warisno, 2007).
Kebutuhan jagung manis nasional untuk pangan rata - rata 7 - 8 ton ha-1per tahun, sedangkan produksi jagung manis dalam negeri rata - rata 5 - 6 ton ha-1per tahun. Di Indonesia hasil jagung manis masih tergolong rendah yaitu 3,5 tonha-1, sedangkan potensi produksi jagung manis saat ini dapat mencapai 8,31 tonha-1(Sudarsono, 2000; Anonymous, 2006).
Prospek usaha tani tanaman jagung cukup cerah bila dikelola secara intensif dan komersial berpola agribisnis. Permintaan pasar dalam negeri dan peluang ekspor komoditas jagung cenderung meningkat dari tahun ke tahun, baik untuk memenuhi kebutuhan pangan. Hasil penelitian agroekonomi tahun 1981-1986 menunjukkan bahwa permintaan terhadap jagung terus meningkat. Hal ini berkaitan erat dengan laju pertumbuhan penduduk, peningkatan konsumsi perkapita, perubahan pendapatan dan pemenuhan kebutuhan  benih (Rukmana, 1997).
Salah satu penyebab rendahnya tingkat produktivitas komoditas pertanian, khususnya jagung manis ialah kondisikesuburan  tanah yang menurun dan bahan organik  tanah yang rendah.Keberhasilan peningkatan produktivitas komoditas pertanian di Indonesia tidakterlepas dari penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan.
Penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus tanpa diimbangi oleh pupuk organik akanmemberikan pengaruh buruk pada tanah. Hal ini dijelaskan oleh Arafah dan Sirrapa (2003) bahwa penggunaan pupuk anorganik secara intensif untukmengejar hasil yang tinggi akan menyebabkan bahan organik tanah menurun,sehingga produktivitas  lahan  juga menurun. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan dampak dari penggunaan pupuk anorganik, maka upayayang dapat dilakukan ialah dengan penggunaan pupuk hayati yang dapat menjadi salah satu alternatif yang baik untuk memperbaiki sifat tanah serta menambah kandungan unsur hara pada tanah sehingga produktivitas jagung manis masih dapat ditingkatkan.
Media tanam merupakan salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan dan  perkembangan tanaman. Penggunaan media tanam yang tepat akan menentukan pertumbuhan bibit yang ditanam. Tidak hanya kegunaannya saja tapi pengaruhnya terhadap perkecambahan suatu biji. Pengaruh tersebut dapat disebabkan karena setiap media tanam mengandung unsur-unsur dan struktur yang berbeda-beda.
 Media tanam merupakan media/tempat dimana tanaman/biji dapat tumbuh dan berkembang di dalamnya. Contohnya seperti tanah,air,kapas,pasir, dan sejenis lainnya. Saat ini, di kehidupan sehari-hari atau dalam perkebunan,tanah selalu menjadi media tanam bagi benih yang akan ditanam. Tapi, dalam kegiatan penelitian, siswa-siswi selalu memakai  kapas untuk perkecambahan biji mereka, sedangkan media tanam yang menggunakan air biasanya dikhususkan untuk tumbuhan hidroponik. Media tanam itu berpengaruh terhadap kecepatan perkecambahan semua tanaman termasuk pertumbuhan tanaman jagung.
Diduga penggunaan media tanam dan frekuensi penyiraman 850cc dapat meningkatkan hasil dari tanaman jagung.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman jagung termasuk Class monocotyledone, ordo  graminae, familia graminaceae, genus zea, species Zea mays.L ( Insidewinme, 2007) dan merupakan tanaman berumah satu (monoecious), bunga jantan (staminate) terbentuk pada malai dan bunga betina (tepistila) terletak pada tongkol di pertengahan batang secara terpisah tapi masih dalam satu tanaman (Subandi, 2008).  Jagung tergolong tanaman C4 dan mampu beradaptasi dengan baikpada faktor pembatas pertumbuhan dan produksi. Salah satu sifat tanaman jagung sebagai tanaman C4, antara lain daun mempunyai laju fotosintesis lebih tinggi dibandingkan tanaman C3, fotorespirasi dan transpirasi rendah, efisien dalam penggunaan air (Goldsworthy dan Fisher, 1980).
Tanaman jagung berakar serabut terdiri dari akar seminal, akar adventif dan akar udara (Goldsworthy dan Fisher, 1980), mempunyai batang induk, berbentuk selindris terdiri dari sejumlah ruas dan buku ruas. Pada buku ruas terdapat tunas yang berkembang menjadi tongkol. Tinggi batang bervariasi 60-300 cm, tergantung pada varietas dan tempat Selama fase vegetatif bakal daun mulai terbentuk dari kuncup tunas. Setiap daun terdiri dari helaian daun, ligula dan pelepah daun yang erat melekat pada batang (Sudjana, Rifin dan Sudjadi, 1991).
Bunga jantan terletak dipucuk yang ditandai dengan adanya rambut atau tassel dan bunga betina terletak di ketiak daun dan akan mengeluarkan stil dan stigma (Idris, Zainal, Mohammad, Lassim, Norman dan Hashim, 1982). Bunga jagung tergolong bunga tidak lengkap karena struktur bunganya tidak mempunyai petal dansepaldimana organ bunga jantan (staminate) dan organ bunga betina (pestilate) tidak terdapat dalam satu bunga disebut berumah satu (Sudjana, Rifin dan Sudjadi, 1991).
Tanaman jagung (Zea mays L.) dalam sistematika tumbuh-tumbuhan menurut Warisno (2007) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Monocotyledonae
Ordo : Poales
Family : Poaceae
Genus : Zea
Species : Mays L.
Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif. Susunan morfologi tanaman jagung terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan buah (Wirawan dan Wahab, 2007).
Perakaran tanaman jagung terdiri dari 4 macam akar, yaitu akar utama, akar cabang, akar lateral, dan akar rambut. Sistem perakaran tersebut berfungsi sebagai alat untuk mengisap air serta garam-garam mineral yang terdapat dalam tanah, mengeluarkan zat organik serta senyawa yang tidak diperlukan dan alat pernapasan. Akar jagung termasuk dalam akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman (Suprapto, 1999). Batang jagung tegak dan mudah terlihat sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gadum. Batang tanaman jagung beruas-ruas dengan jumlah ruas bervariasi antara 10-40 ruas. Tanaman jagung umumnya tidak bercabang. Panjang batang jagung umumnya berkisar antara 60-300 cm, tergantung tipe jagung. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin (Rukmana, 1997).
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang, antara pelepah dan helai daun terdapat ligula.Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada pula yang berambut. Setiap stoma dikelilingi oleh sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun (Wirawan dan Wahab, 2007).
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol yang tumbuh diantara batang dan pelepah daun. Padaumumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga (Suprapto, 1999).
Buah jagung terdiri dari tongkol, biji dan daun pembungkus. Biji jagung mempunyai bentuk, warna, dan kandungan endosperm yang bervariasi, tergantung pada jenisnya. Umumnya buah jagung tersusun dalam barisan yang melekat secara lurus atau berkelok-kelok dan berjumlah antara 8-20 baris biji.


            Dilihat dari media tanam sebagai berikut :
·         Media Tanam Tanah Liat
Tanah liat merupakan jenis tanah yang bertekstur paling halus dan lengket atau berlumpur. Karakteristik dari tanah liat adalah memiliki pori-pori berukuran kecil (pori-pori mikro) yang lebih banyak daripada pori-pori yang berukuran besar (pori-pori makro) sehingga memiliki kemampuan mengikat air yang cukup kuat. Pori-pori mikro adalah pori-pori halus yang berisi air kapiler atau udara. Sementara pori-pori makro adalah pori-pori kasar yang berisi udara atau air gravitasi yang mudah hilang. Ruang dari setiap pori-pori mikro berukuran sangat sempit sehingga menyebabkan sirkulasi air atau udara menjadi lamban.
Pada dasarnya, tanah liat bersifat miskin unsur hara sehingga perlu dikombinasikan dengan bahan-bahan lain yang kaya akan unsur hara. Penggunaan tanah liat yang dikombinasikan dengan bahan-bahan lain seperti pasir dan humus sangat cocok dijadikan sebagai media penyemaian, cangkok, dan bonsai.
·         Media Tanam Pasir
Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi tanah. Sejauh ini, pasir dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman. Sifatnya yang cepat kering akan memudahkan proses pengangkatan bibit tanaman yang dianggap sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain. Sementara bobot pasir yang cukup berat akan mempermudah tegaknya setek batang. Selain itu, keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan dalam penggunaan dan dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam. Pasir malang dan pasir bangunan merupakan jenis pasir yang sering digunakan sebagai media tanam.
Oleh karena memiliki pori-pori berukuran besar (pori-pori makro) maka pasir menjadi mudah basah dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan konsistensi (ketahanan terhadap proses pemisahan) pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air atau angin. Dengan demikian, media pasir lebih membutuhkan pengairan dan pemupukan yang lebih intensif. Hal tersebut yang menyebabkan pasir jarang digunakan sebagai media tanam secara tunggal.
Penggunaan pasir sebagai media tanam sering dikombinasikan dengan campuran bahan anorganik lain, seperti kerikil, batu-batuan, atau bahan organik yang disesuaikan dengan jenis tanaman.
Pasir pantai atau semua pasir yang berasal dari daerah yang
bersersalinitas tinggi merupakan jenis pasir yang harus dihindari untuk gunakan sebagai media tanam, kendati pasir tersebut sudah dicuci terlebih dahulu. Kadar garam yang tinggi pada media tanam dapat menyebabkan tanaman menjadi merana. Selain itu, organ-organ tanaman, seperti akar dan daun, juga memperlihatkan gejala terbakar yang selanjutnya mengakibatkan kematian jaringan (nekrosis).
·         Media Tanam Kapas
Kapas memiliki struktur yang lembut, dan juga memiliki daya serap air yang rendah. Sehingga, media tanam dengan kapas dapat terjaga kelembabannya, dan juga memiliki persediaan air dalam jangka waktu yang lama.






BAB III
PERMASALAHAN
Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.
Permasalahannya adalah rendahnya tingkat produktivitas komoditas pertanian, khususnya jagung manis ialah kondisi kesuburan  tanah yang menurun dan bahan organik  tanah yang rendah.Keberhasilan peningkatan produktivitas komoditas pertanian di Indonesia tidakterlepas dari penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan.
Dengan penelitian ini diharapkan dapat memperoleh kombinasi yang paling tepat antara frekuensi penyiraman dengan dan media tanam yang cocok sehingga dapat menghasilkan hasil tanaman jagung yang terbaik



BAB IV
HIPOTESIS
Diduga penggunaan media tanam pasir dan frekuensi penyiraman 850cc dapat meningkatkan hasil dari tanaman jagung.







BAB V
TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN
1.      Tujuan Penelitian
·         Mengetahui pengaruh frekuensi penyiraman pada tanaman jagung
·         Mengetahui kombinasi terbaik antara penggunaan media tanam pasir dan kapas
2.      Kegunaan Penelitian
·         Sebagai sumber informasi bagi sebagian orang yang belum mengetahui pengaruh media tanam bagi tumbuhan jagung.
·         Sebagai sumber informasi dalam pengembangan teknologi pertanian, dan juga untuk memberi informasi pembaca atau petani tentang ciri-ciri media tanam yang baik untuk pertumbuhan tanaman jagung.






BAB VI
METODE PENELITIAN
6.1  Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan dilapang dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Penelitiuan terdiri dari 3 blok. Faktor perlakuan daam penelitian adalah :
·         Frekuensi Penyiraman (FP), dengan taraf sebagai berikut :
FP 1: 1 Kali siram 500ml/hari
FP 2: 1 Kali siram 750ml/hari
FP 3: 1 Kali siram 1000ml/hari
·         Media Tanam (MT), dengan taraf sebagai berikut :
MT 1 : Media Pasir
MT 2: Media Tanah liat
MT 3: Media Kapas
Sehingga diperoleh 9 kombinasi perlakuan :
FP1MT1         FP2MT1          FP3MT1
FP1MT2         FP2MT2          FP3MT2
FP1MT3         FP2MT3          FP3MT3
Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan sidik ragam pada taraf 5% dan 1%, dan apabila ada beda nyata dilakukan uji lanjut dengan uji LSD untuk menguji perlakuan media tanam dan DMRT untuk mengui perlakuan frekuensi penyiraman
6.2  Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan yaitu : cetok, cangkul, ember 500ml, 750 ml, dan 1000ml. Bahan : media pasir, media tanah liat, media kapas, biji jagung.

6.3  Waktu dan Tempat Peneitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2015 – November 2015 di tanah terbuka Universitas Tidar
6.4  Pelaksanaan Penelitian
·         Persiapan Bahan Tanam
Memilih biji yang baik,dengan cara merendam biji. Pilihlah biji yang mengendap dan buang biji yang mengapung. Kareng biji yang mengapung sudah tidak dapat tumbuh atau mati
·         Penanaman
Dilakukan berdasarkan kombinasi perlakuan seperti diatas
6.5  Pemeliharaan
a.       Penyiraman
Dilakukan setiap menggunakan botol pengukur yang sudah disediakan di setiap hari nya 1x siram 500ml, atau 1x siram 750ml, atau 1x siram 1000ml
b.      Penyiangan
Penyiangan dilakukan yaitu dengan cara mencabut gulma yang tumbuh diarea tanam
c.       Pengendalian hama dan penyakit
Pencegahan hama dengan menggunakan rizotin 100 EC dengan cara disemprotkan pada daun yang terserang hama. Sedangkan untuk pengendalian penyakit dengan menggunakan Antracol 70 WP dengan cara dilarutkan kemudian di semprotkan pada yang terkena jamur
6.6  Panen
Panen dilakukan setelah sudah berumur 2 bulan.



BAB VII
PENGAMATAN
            Pengamatan dilakukan pada setiap kombinasi perlakuan. Pengamatan dilakukan terhadap parameter pengamatan sebagai berikut :
   1.  Tinggi tanaman (cm)
Pengukuran tanaman dilakukan menggunakan penggaris dengan cara diukur dari pangkal tanaman sampai pada titik tumbuh atau ujung daun jagung. Pengukuran dilakukan setiap minggu hingga minggu ke-7.
  2.  Jumlah daun
Penghitungan jumlah daun dilakukan dengan cara menghitung jumlah yang terbentuk pada setiap tanaman dan dilakukan setiap minggu hingga minggu ke-7.
  3.  Panjang akar (cm)
Pengukuran panjang akar tanaman dilakukan setelah tanaman dipanen dan akarnya telah dibersihkan dari tanah, cara pengukurannya dilakukan dari leher akar sampai ujung akar terpanjang.
  4.  Berat basah akar (g)
Penimbangan berat basah akar dilakukan setelah pemanenan saat akar masih dalam keadaan segar, penimbangan dilakukan menggunakan timbangan analitis.
  5.   Berat kering akar (g)
Penimbangan berat kering akar dilakukan setelah akar dikeringkan menggunakan oven hingga diperoleh berat konstan, penimbangan dilakukan menggunakan timbangan digital.
  6.  Berat basah tanaman bagian atas (g)
Penimbangan berat basah tanaman bagian atas dilakukan setelah pemanenan saat tanaman masih dalam keadaan segar, penimbangan dilakukan menggunakan timbangan analitis.

7. Berat kering tanaman bagian atas (g)
Penimbangan berat kering tanaman bagian atas dilakukan setelah tanaman dikeringkan menggunakan oven hingga diperoleh berat konstan, penimbangan dilakukan menggunakan timbangan digital.
  8.  Pengamatan visual
Pengamatan visual dilakukan pada saat panen dengan tujuan untuk mengetahui atau membandingkan percobaan yang telah dilakukan berdasarkan perlakuannya. Pengamatan visual ini meliputi tinggi tanaman, besar dan tebal daun, warna daun, kekekaran bagian atas tanaman, distribusi akar.






DAFTAR PUSTAKA
manis.html.Diakses pada Sabtu, 1 November 2015.
Justice. Oren L, Bass. Louis N. 1994. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
http://ditjenbun.deptan.go.id/. Diakses pada Sabtu, 1 November 2015.
http://www.kebonkembang.com/. Diakses pada Sabtu, 1 November 2015.
Kartasapoetra, Ance G. 2003. Teknologi Benih (Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum). Jakarta:
Rineka Cipta.
Wahab, Wirawan. 2007. Karakteristik dan klasifikasi tanaman jagung. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap
Fisiologi Tanaman. Fakultas Pertanian, IPB. 16 September 2006. 
Rukmana, 1997. Syarat tumbuh tanaman jagung di indonesia sebagai komoditas alternative untuk
pangan, pakan, dan industry. Jurnal Litbang Pertanian 22: 133-140
Suprapto, 1999. Percobaan pada tanaman jagung berdasarkan frekuensi air. Fakultas Pertanian, IPB.

Bogor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar